Perdebatan Transfer Liverpool: Data vs Intuisi Klopp dalam Merekrut Mohamed Salah

seru88indonesia

Liverpool pernah menggelar pertemuan penting yang membahas salah satu pemainnya yang menjadi ikon saat ini, Mohamed Salah.

Liverpool pernah menggelar pertemuan penting yang membahas Mohamed Salah. Di satu sisi, tim analis menyajikan data dan bukti video yang menunjukkan Salah sebagai pemain ideal. Di sisi lain, Jurgen Klopp awalnya lebih memilih Julian Brandt.

“Jurgen lebih menyukai Julian Brandt untuk transfer musim panas itu. Dia pemain hebat,” ungkap mantan direktur penelitian Liverpool Ian Graham.

Graham menjelaskan: “Jurgen mengenal Brandt dengan baik dari Bundesliga dan memahami pasar Jerman. Kami sepakat Brandt pemain muda berbakat, tapi dari analisis data, Mohamed Salah adalah penyerang muda terbaik di Eropa, titik.”

Tim analis mengetahui Roma sedang kesulitan keuangan sehingga harus melepas Salah dengan harga terjangkau. “Dia bisa bermain sebagai penyerang dan sayap – posisi yang kami butuhkan saat itu, sementara Brandt lebih cocok sebagai gelandang serang,” tambah Graham.

Klopp yang Terbuka pada Data

Graham memuji sikap Klopp: “Jurgen layak diacungi jempol karena terbuka dalam debat ini. Dia bersedia mengatakan, ‘Baiklah, tunjukkan pada saya bukti bahwa Mo lebih baik’.”

Liverpool akhirnya membeli Salah dari Roma seharga £34 juta pada Juni 2017. Keputusan ini terbukti brilian – pemain Mesir itu menjadi legenda dengan 243 gol dan 109 assist dalam 393 penampilan, serta membantu Liverpool meraih enam trofi besar di era Klopp.

BACA JUGA: Williams Berjuang Kembali ke Lapangan Hijau Setelah Masa Sulit

Revolusi Analitik Liverpool

Graham, yang sebelumnya bekerja di Tottenham (2007-2012), mengungkapkan: “Liverpool adalah klub pertama yang memiliki departemen analitik internal.”

Dia menjadi arsitek strategi ‘Moneyball’ ala Fenway Sports Group (2012-2023): “Intinya: bisakah kami mendapatkan nilai lebih dari setiap pound yang dikeluarkan? Dengan begitu, kami bisa bersaing dengan klub beranggaran lebih besar.”

Cakupan analisis mereka berkembang dari 7-8 liga menjadi 60 liga dunia. Graham bekerja sama dengan Michael Edwards (kini CEO sepak bola FSG) dalam komite transfer yang mengambil keputusan bersama manajer.

Perbedaan Pendekatan: Rodgers vs Klopp

Graham mengungkap perbedaan mencolok antara Klopp dan pendahulunya Brendan Rodgers:

“Kami sering berselisih dengan Brendan soal rekrutan. Dia sangat menilai pengalaman Premier League, sementara kami melihat pemain seperti Salah dan Firmino justru undervalued.”

Rodgers dinilai kaku: “Dia datang dengan keyakinan bahwa hanya pemain pilihannya yang cocok, dan sulit membujuknya sebaliknya.”

Sementara Klopp disebut sebagai “missing piece” – manajer yang “melihat apa yang data tunjukkan”. Graham menambahkan: “Jurgen bahkan kerap berterima kasih karena kami mencegah rekrutan kurang tepat, yang awalnya memicu perdebatan sengit.”

Kisah transfer Salah menjadi bukti kesuksesan kolaborasi antara analisis data dan keputusan manajerial di Liverpool – formula yang mengantarkan mereka ke puncak kesuksesan Eropa.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Bolanet24 (@bolanet24)

Also Read

Tinggalkan komentar