Mauricio Pochettino Ingin Kembali ke Tottenham Hotspur Suatu Hari Nanti

seru88indonesia

Mantan manajer Tottenham Hotspur, Mauricio Pochettino, mengungkapkan bahwa ia ingin kembali ke klub London utara tersebut.

Mantan manajer Tottenham Hotspur, Mauricio Pochettino, mengungkapkan bahwa ia ingin kembali ke klub London utara tersebut. Tentu bukan dalam waktu dekat, tetapi di masa yang akan datang.

Pria berusia 53 tahun itu melatih Spurs dari tahun 2014 hingga 2019. Di bawah kepemimpinannya, klub berhasil meraih posisi kedua di Liga Premier pada tahun 2016, mencapai final Piala EFL pada 2015, dan mencatatkan pencapaian luar biasa dengan melaju ke final Liga Champions 2019.

Namun, Tottenham memutus kontraknya pada November 2019 dan kemudian melatih Paris Saint-Germain (PSG) serta Chelsea. Sampai akhirnya timnas Amerika Serikat menunjuknya sebagai pelatih mereka pada bulan September.

“Ketika saya meninggalkan klub, saya pernah mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa saya ingin kembali ke Tottenham suatu hari nanti,” ujar Pochettino dilansir dari Sky Sports.

“Sekarang saya berada di AS, jadi saya tidak akan membicarakannya terlalu dalam saat ini. Namun, apa yang saya katakan saat itu masih terasa di hati saya, bahkan setelah lima atau enam tahun. Ya, saya ingin kembali suatu hari nanti.”

BACA JUGA: Arsenal Siap Buka Pembicaraan Kontrak Baru dengan Bukayo Saka

HUBUNGAN BAIK

Pochettino menegaskan bahwa ia mempertahankan “hubungan yang sangat baik” dengan Daniel Levy, meskipun dirinya dipecat oleh ketua Spurs. “Memang benar, setelah hampir enam tahun menjalani semua yang telah kami lewati bersama, perpisahan itu sulit, terutama dengan segala pasang surut dan pengalaman emosional yang kami hadapi,” tambahnya. “Kami berpisah dengan sangat baik. Ada yang bersifat profesional, ada juga yang pribadi, namun kami selalu memiliki hubungan yang sangat baik sejak saat itu.”

Setelah meninggalkan Chelsea pada Mei lalu, Pochettino menghabiskan satu musim bersama klub tersebut. Selama masa jabatannya, ia berhasil membawa Chelsea mencapai final Piala EFL, semifinal Piala FA, dan finis di posisi keenam Liga Premier.

“Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, lebih baik berhenti dan mencari cara lain. Saya rasa itu adalah keputusan terbaik untuk kedua belah pihak,” jelasnya. “Kedua belah pihak merasa senang berpisah, dan setelah itu berbagai pilihan pun muncul.”

Setelah meninggalkan Stamford Bridge, Pochettino sempat dikaitkan dengan pekerjaan melatih tim nasional Inggris, sebelum akhirnya Thomas Tuchel ditunjuk pada musim gugur lalu. Meskipun kesempatan melatih Inggris adalah suatu kehormatan besar, Pochettino merasa waktunya belum tepat. Ia beranggapan kalau melatih timnas Amerika Serikat menjelang Piala Dunia 2026 merupakan peluang yang terlalu bagus untuk ditolak.

“Merupakan suatu kehormatan untuk menjadi pelatih kepala tim nasional Inggris, tetapi terkadang waktunya tidak tepat. Pilihan itu hilang saat kesempatan datang,” ungkap Pochettino. “Menjadi pelatih tim nasional AS dengan Piala Dunia 2026 di depan mata adalah tantangan besar, dan kesempatan untuk melatih tim tuan rumah adalah peluang yang luar biasa bagi staf pelatih seperti kami yang telah lama bekerja di klub. Ketika tawaran itu datang, mudah untuk mengatakan ‘ya’.”

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Mauricio Pochettino (@pochettino)

Also Read

Tinggalkan komentar